Avatar

Dilema! Membutuhkan Pasangan Hidup

by Novawijaya on

Jika seseorang sudah berada pada usia siap menikah namun masih sendiri, pasti ada alasan di belakang itu. Iya, kan? Alasannya bermacam-macam. Bisa saja trauma, ditinggal nikah pasangan, atau yang terakhir adalah penyuka sesama. Apa pun alasannya, seharusnya sih kita berkeluarga, menikah dan memiliki anak.

Berketurunan agar hidup menjadi lengkap. Namun kembali lagi, ada banyak alasan yang membuat keputusan untuk sendiri adalah yang terbaik.

“Aku mutusin belum menikah di usiaku yang udah 30an karena gak nyaman dengan pernikahan dan berbagai hal didalamnya. Melihat keluargaku yang lain yang sudah berkeluarga, kok mereka lebih banyak mengeluh daripada bahagia. Jadi menurutku, buat apa menikah kalo Cuma bikin ngeluh aja?” ungkap Karta.

Karta adalah lelaki modis yang memiliki pekerjaan aman di sebuah kantor di bilangan Jakarta. Tentunya masalah uang bukan penghalang untuknya jika ingin berkeluarga.

“Kalo pas lagi kesepian di rumah, gak ada acara keluar sama temen, suka kesepian. Ada aja tuh gangguan yang bikin aku ingin punya pasangan. Cuma aku tepis aja jauh-jauh, jangan sampai pikiran kecil seperti itu jadi distraksi yang mengganggu.”

Kenapa sampe segitunya, mas?

“Gak ngerti. Tapi emang gak mau aja. Pacaran pun aku gak mau, gak ingin akhirnya rasa cinta mengubah prinsipku. Kalo udah begini ya begini, konsekuen sama prinsip.”

Sungguh, kadang memang orang sulit dimengerti.

“Terakhir banget pacaran itu kelas 2 SMA. Setelah itu, aku menemukan kalo gak ada lagi yang menarik dari percintaan. Ini bukan masalah aku menjustifikasikan apa yang terjadi di keluarga aku, namun aku ingin mencegah hal itu terjadi di aku. Bukan takut, ya. Aku mencegah biar gak sakit dan gak jadi keluhan. Hubungan itu kan harusnya menyenangkan, bukan malah menyusahkan.”

Oh, bener juga sih. Sekalian mencegah over populasi kayaknya, ya.

Sepanjang ngobrol sama Karta, kami melihat tidak ada keraguan ketika dia menceritakan semuanya. Pandangannya, keputusannya dan keinginannya untuk menjadi sendiri sampai entah nanti. Ini mungkin yang orang sering bilang sebagai prinsip. Prinsip yang seringkali hanya manis di bibir, bisa dilakukan dengan tegak oleh orang ini.

Pernikahan, seperti layaknya hal-hal sakral lainnya, mungkin adalah sebuah upacara yang diinginkan semua orang. Dan untuk sebagian orang, pernikahan tak lebih dari sekedar perayaan akan permasalahan baru tahunan yang akan terjadi. Sudut pandang mana yang kamu pilih, itu yang menjadi jawaban akan segala pertanyaan dalam diri.

Avatar

Written by: Novawijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *