Avatar

Mundur Saat Mempersiapkan Pernikahan

by Novawijaya on

Kita tidak akan membicarakan kisah-kisah perceraian yang menguras emosi jiwa. Agak mundur sedikit, yang kita akan obrolin adalah mundur ke jenjang sebelum masuk ke pernikahan yaitu persiapan pernikahan. Apa jadinya ya kalo kamu udah persiapin segalanya demi pernikahan agar lancar, meriah dan menyenangkan tapi tiba-tiba pasanganmu malah mundur dan meninggalkan kamu?

Leo, begitu lelaki ini biasa dipanggil, menyerah begitu aja waktu dia dan pasangannya lagi seru-serunya mempersiapkan segala sesuatu untuk hari besarnya; pernikahan. Apa yang membuat Leo begitu tega melepaskan pernikahan yang tinggal menghitung hari?

“Akhirnya saya sadar kalo saya gak bener-bener cinta sama pacar saya, mas. Saya sayang, tapi perasaan sayang itu lebih kayak kakak ke adik, gak lebih. Perasaan itu saya sadarin pas awal-awal kita lagi mempersiapkan semuanya. Kok berasa kayak saya lagi ngeladenin adek saya. Udah, dari situ saya pikirin lagi dan keputusan saya bulet, pisah aja daripada salah langkah.” Jelas Leo.

Iya, daripada salah langkah lebih baik sakit gigi.

Leo mengaku sebenernya sudah mulai merasakan hal tersebut sejak lama, namun selama ini dia hanya menyimpannya di dalam hati karena menganggap, lama kelamaan perasaan itu akan berubah. Sampai tiba hari dimana akhirnya dia menyadari kalo rasa emang susah diubah, dan cinta tak pernah kunjung datang.

“Nangis, mas. Kita berdua nangis-nangisan. Tapi terus mau apa lagi? Yang udah pasti, saya dibenci sama keluarganya. Ngerugiin dia juga. Cuma ya itulah konsekuensinya.” Tutup Leo.

Ngomong-ngomong, hubungan Leo dan pasangannya ini sudah berjalan selama kurang lebih 4 tahun. Dan dalam setahun terakhir hubungan mereka, Leo mulai merasakan perasaan yang semestinya tidak harus ada. Dipaksa seperti apa pun, perasaan itu tidak bisa berubah, begitu jelas Leo.

“Sekarang sih yang susah adalah move on dari semua kenangan yang pernah terjadi sama dia, mas. Diakuin atau enggak, rasa sayang mah masih ada, rasa nyaman apalagi. Cuma di sini, saya juga gak mau memposisikan diri sebagai laki-laki pengecut yang akhirnya Cuma bisa bersembunyi dibalik argumen.”

Kok makin lama bahasanya makin berat ya?

Terakhir, apa yang bisa Leo ambil ya dari kegagalan menikah yang, uhm, dia sendiri sebabkan?

“Jauh dibalik semuanya, saya lega. Baik untuk diri sendiri maupun buat hubungan sama sama pasangan saya yang sekarang sih benci banget. Gak ada yang ditutupin lagi, gak ada yang dibohongin lagi baik perasaan atau hubungan. Terserah sih orang lain mau bilang apa, saya Cuma berusaha jujur dan terbuka sama diri sendiri.”

Emang ya, kadang apa yang kita ingin gak selalu sejalan sama apa yang terjadi. Apa yang kita mau pun belum tentu menjadi sebuah kebutuhan yang pokok. Menikah, seperti halnya beberapa hal lain, adalah sebuah langkah besar. Namun berpulang lagi ke pribadi masing-masing. Siapkah kita? Beranikah kita? Dan yang paling penting, jujurkah kita?

“When you try your best, but you don’t succeed
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can’t sleep
Stuck in reverse”

Avatar

Written by: Novawijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *